SDM Unggul Adalah Kita (Produktif Untuk Kerja Nyata)

Halo Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia, perkenalkan saya Aprillia Arifiyanti seorang ibu rumah tangga domisili Purwokerto Banyumas Jateng yang senang bergerak dan tidak ingin menjadi ibu yang biasa-biasa saja. Hihi, karena kalau biasa-biasa saja jelas tidak ada yang diunggulkan dong ya? sedangkan penekanan era pemerintah saat ini adalah SDM Unggul Indonesia Produktif. Setiap mengingat  tagline tersebut jiwa saya seolah ‘kesentil’ apalagi jika sudah dilanda mager . Saya selalu berdoa pada Tuhan agar saya dijauhkan dari rasa malas, karena rasa malas menimbulkan sikap yang non productive.

Bersama sepeda andalan yang mengantar langkah harianku beraktifitas.

Sebagai ibu dari empat putri, sayapun belajar menanamkan jiwa wirausaha pada anak-anak saya. Tujuannya agar anak kelak memiliki jiwa mandiri, pantang menyerah dan memiliki imtaq yang kuat sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan, berjiwa sosial, berfikir kreatif (banyak ide) dan tidak menyusahkan orang lain (termasuk pemerintah).  Alhamdulillah sisulung sejak kelas 5 SD (4 tahun lalu) sudah pandai berdagang walau sekedar slime buatannya. Toh lama-lama makin banyak yang terjual hingga akhirnya membuat akun media sosial untuk penjualan produksi tersebut. Awalnya kewalahan terlebih saat harus COD an karena tidak ada asisten, namun lama-lama terbiasa dan akhirnya terbantu dengan maraknya Ojek online.

Bersama keluarga inti kesayangan (para generasi maju) yang mandiri.

 

Berbeda dengan adiknya yang piawai editing (padahal hanya diajarkan beberapa menit saja sama suami) selebihnya utak atik hingga lancar sendiri sehingga sangat membantu saya dalam melakukan kegiatan dalam media sosial yaitu sebagai influencer. Hihi, kerjasama itu menyenangkan bukan? selama ada kemauan pasti ada jalan terlebih era milenial seperti saat ini dimana semua usaha bisa dilakukan walau hanya di rumah saja. Memanfaatkan teknologi secara positif tentu sangat menghasilkan, baik secara material maupun non materi (ilmu yang bermanfaat). Lha wong mau belajar apa saja bisa otodidak khan sekarang ya?!

Belajar membuat eco brick (bata ramah lingkungan) dengan plastik bekas apapun.

Terlebih anak-anak saya dilahirkan pada generasi (zaman) yang berbeda dengan  yaitu Generasi Z (kelahiran 1995-2010) dan sibungsu di Generasi Alpha (2010 – sekarang) tentu saya tidak bisa memaksakan mereka untuk melakukan seperti yang saya lakukan saat kecil. Jadi saya memang ‘membiarkan’ mereka berkembang dengan ide melalui gadgetnya, karena banyak hal yang menginspirasi disana (selain nge games) tak jarang saat liburan seperti ini mereka praktek membuat cemilan, minuman yang semua resepnya dari you tube hingga saya kebagian surprise mencicipinya (noted saya tidak bolehrewel dengan ide ide mereka) tersebut. Intinya segala hal yang kita miliki — lakukan, harus bisa dimanfaatkan (bermanfaat minimal bagi sendiri) sehingga timing nya lebih produktif.

Bersama anak anak di sekolah saat koordinasi dan praktek sekolah bijak plastik

Lalu hal apa saja yang saya lakukan diluar pengasuhan para generasi maju (sebutan saya untuk 4 anak saya) ini untuk menjadi SDM yang unggul  secara konsisten?

  1. Saya sedang belajar urban farming (memindahkan konsep pertanian konvensional keperkotaan) walau baru 4 bulanan bagi saya tak ada kata terlambat. Menyadari bahwa tinggal di perumahan yang lahannya sempit namun bukan alasan untuk tidak menyumbang oksigen pada bumi ya? nah keistimewaan urban farming ala saya, yang digunakan adalah wadah plastik bekas sehingga saya tidak pernah menyengaja membeli pot atau polybag (kecuali dikasih teman sesama pecinta tanaman).

    Halaman rumah penuh jenis sayuran dan toga.

     

  2. Belajar (berusaha) mempraktekan 3R (Reuse, Reduce, Recycle)Reuse (menggunakan kembali sampah) versi saya dengan membiasakan menggunakan lap (serbet) agar tidak menyampah (mengurangi sampah tisu misalnya) sehingga saat saya bepergian atau acara pertemuan saya sengaja bawa serbet  untuk digunakan bersama lainnya. Atau jika saya ketempatan di rumah, saya berusaha menyediakan konsumsi yang aman (minim sampah) seperti menggunaakan piring dan gelas kaca. Harapan kedepan semua yang dekat dengan saya bisa terbawa langkah positif ini, karena saya yakin perlu pembiasaan berkelanjutan (walau prosesnya bertahap).

    Suguhan tradisional pasca kegiatan pemberantasan sarang nyamuk tanpa tisu dan gelas plastik.

     

    Termasuk saya lebih suka sekaligus memilih (saat sedang jadi panitia misalnya) undangan via email atau wa daripada undangan tertulis dikertas. Saya juga membiasakan menyediakan kertas bekas kalender  atau  bekas ujian dan fotocopy an anak-anak di sekolah untuk digunakan ulang (sebagai bahan coretan misalnya). Hal lain memisahkan sampah sesuai jenisnya, dengan pemisahan tersebut saya bisa beramal kepada tukang sampah selain meringankan bebannya. Rumusnya satu jika kita mepermudah orang lain, kitapun akan dipermudah thats simple.

    Penggunaan wadah bekas lem sebagai media tanam.

    Reduce (mengurangi sampah)

    Versi saya tentu dengan menggunakan bahan yang bisa dipakai ulang seperti beli tintanya saja untuk spidol atau bolpen, menggunakan piring, gelas, atau sendok saat acara arisan di rumah (walau agak repot tapi harus semangat ya…!!). Saat pergi kemanapaun bawa wadah ramah lingkungan, terlebih hanya beli jajanan lewat depan rumah bisa langsung saja ambil piring. Ini saya biasakan pada anak anak saya agar mereka kelak mengikutisekaligu meniru pembiasaan seperti ini walaupun lingkungan belum semua  support dan kadang anak saya rewel minta seperti teman temannya diplastikin namun tenang saja bunda, biasanya hal seperti itu hanya sesaat ko karena lama-lama sikecil pasti diam juga, toh jajanannya tetap dibelikan. 😀

     

    Pertemuan rutin bulanan pengurus RW (tanpa sampah plastik).

     

    Recycle (mendaur ulang sampah)

    Yang sudah saya lakukan adalah membuat kompos dari sampah organik, walau pada akhirnya kurang cocok dilakukan karena baunya menyengat (maklum tinggal diperumahan). Bisa juga manfaatkan bahan alam untuk ecoprint dan contoh lain gunakan ampas kopi untuk lulur dan penyubur tanaman. Belakangan mau coba juga menggunakan minyak jelantah untuk dijadikan media lilin dan memanfaatkan sampah non organik (plastik kemasan) untuk dijadikan tas. dompet, bunga atau sekedar media tanam yang memiliki nilai jual. So far masih digunakan secara personal tidak dijual. Itupun rasanya puas sekali, alhamdulillah.

Bersama ibu PKK membuat ecoprint (pemanfaatan daun sebagai bahan alami corak kain).

3. Berkegiatan sosial melalui berbagai kelompok binaan

Tak perlu sungkan mengikuti kegiatan mulai dari lingkup terkecil seperti dawis, RT, RW lama-lama biasanya terpilih menjadi kader seperti kader posyandu, perangkat RT, RW hingga kelurahan. Semakin banyak kegiatan yang diikuti, semakin banyak manfaat positif  yang didapati.

Bersama Lurah, Bidan dan kader posyandu  saat Operasi Timbang Badan.

Membuka diri juga dengan komunitas diluar perangkat pemerintahan daerah seperti tergabung dalam pengusaha wanita mandiri area Banyumas atau sekedar mengikuti pengajian mingguan. Menurut saya dengan aktif tak hanya dimedia sosial tapi juga secara nyata lebih terasa manfaatnya seperti  bertambahnya relasi, pertemanan yang otomatis bisnis yang kita gelutipun makin dikenal banyak orang.

Bersama ibu ibu hebat pengusaha mandiri (UMKM Daerah)

 

Faktanya masih banyak  para emak -emak yang gagap teknologi (kecuali sekedar foto selfie) tapi lincah dalam dunia nyata juga sebaliknya yang high tech justru gagap dalam berkehidupan nyata alias gak kenal lingkungan sekitar.  Nah saya sedang mencoba untuk belajar menyeimbangkan semuanya, lihai dalam bermedsos juga lincah dalam kehidupan nyata.  Saya juga sebenarnya melatih otak untuk meningkatkan fungsi memori dan melindunginya dari  penyakit yang merusak saraf. Intinya jangan malas berfikir dan bergerak ya! 😀

Saat Kampanye (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) Se kecamatan Purwokerto Selatan.

 

4. Fokus dan segerakan tugas yang menghampiri

Semisal sedang mengerjakan project A ya saya harus segera selesaikan jangan lihat B, C, dan D terlebih dahulu karena dengan banyak melihat tugas lainnya terkadang membuat diri terasa berat dan tak mampu, padahal jalani saja terlebih dahulu dan rasakan setelah tantangan terlewati (semua kan terasa indah pada waktunya).

Bersama tim Forum Kesehatan Kelurahan dan Puskesmas pasca kegiatan bulanan Giat PSN.

5. Konsisten dan tidak pelit berbagi ilmu

Hasil itu sebetulnya mengikuti jika kita bersungguh sungguh dalam hal apapun, tak hanya satu waktu saaat itu saja. Enyahkan rasa malas dan jauhi sikap pelit. Jika ada yang membutuhkan bantuan kita berikan saja sejelas jelasnya semampu kita. Semisal ada yang butuh alamat percetakan ya kita kasih tau percetakan yang baik dimana sekaligus harga-harganya jika memang kita tahu, gak usah takut produk kita tersaingi karena semua sudah diatur Tuhan, kitanya saja jangan pernah merasa lelah untuk terus  bersyukur dan berusaha.

Bersama para mahasiswa yang sedang berlatih enterpreneur di sunmor Gor Satria Purwokerto

5 hal diatas adalah cara saya menjadi bagian dari SDM yang unggul, tak perlu berteriak menyuruh orang lain untuk sama seperti kita tapi kita beri contoh saja agar orang lainpun dapat melakukan hal yang sama seperti kita melalui prosesnya begitu ya Kadin Indonesia. Kedepannya semoga Indonesia menjadi lebih unggul dengan kualitas SDM yang mumpuni (kesadaran yang dilandasi keimanan dan ketakwaan seperti yang tercantum dalam Pancasila) sehingga Indonesia memiliki tenaga siap pakai berkualitas  yang mampu mendongkrak  industri kreatif sehingga ekonomi masyarakatnya menjadi sejahtera karena SDM Unggul adalah KITA  (yang produktif dan kerja nyata).

 

**semua foto document pribadi


Komentar dan Tanggapan: