Inilah Alasan Mengapa Sosok Ayah Sangat Disukai Si Balita

“Aku nanti malam bobonya sama Ayah” begitulah celoteh sibalitaku Anindya yang baru genap 4 tahun usianya. Hampir setiap hari yang terdengar, mau sama Ayah…!! Mulai dari mandi, ditemani makan hingga tidur. Hihi, Bundanya merdeka…!!! Psst, tapi itu semua berlaku jika si Ayah terlihat batang hidungnya di rumah ya. Jika tidak? Hmm…bakal kebalikannya deh. Sama Bunda! Jadi sikecil itu heboh sama Ayah jika sosok Ayah memang sedang terlihat di rumah.

Lalu mengapa sibalita Generasi Maju  sangat senang sekali jika melihat sosok Ayahnya di rumah ya, berikut penelitian saya mulai dari balitanya sikaka hingga sibontot :

1. Sosok ayah  cenderung lebih banyak diam sehingga  sikecil haus akan kata-katanya, kalau Bundakan lebih ramai dan ada saja yang dibicarakan, ditegaskan dan diatur sehingga mungkin sikecil agak bosan mendengarnya. 😀

2. Ayah lebih sabar sehingga emosi lebih terkontrol, perasaan sikecilpun jadi lebih aman bersamanya. Ayah juga lebih kuat dalam hal fisik sehingga saat bermain dengan Ayah, tak segan-seganlah sikecil bermanja-manja dengannya misalnya minta gendong, diayun dll.

3. Ayah lebih royal terhadap sikecil, minta apa saja sepertinya Ayah lebih memberikan lampu hijau dibandingkan si Bunda yang lebih banyak pertimbangannya.

4.  Bersama Ayah, sikecil lebih percaya diri saat akan bereksperimen sekaligus berpetualang seperti saat sibalitaku bermain di hutan Pinus Baturaden, Ayah banyak membolehkan sikecil melakukan ini itu tentu dengan pantauannyanya ya. Agak berbeda dengan si Bunda yang barangkali lebih banyak berteriak untuk lebih berhati-hati.

5. Konon makin dekat dengan ayah, makin bagus IQ sibalita karena memiliki kemampuan menyelesaikan masalah lebih mandiri. Faktanya memang benar, sibalita lebih sering tak mau dibantu saat menggunakan tali sepatu walau salah masuk lubang urutannya tetap saja percaya diri untuk meneruskannya.

6. Sosok Ayah juga lebih terkesan melindungi sehingga sikecilpun melakukan apapun lebih mandiri dan berani melakukannya seperti saat menyebrangi jembatan kecil yang tak mau dipegangi misalnya. Tahu bahwa Ayah berada dibelakangnya sehingga sikecilpun tetap berani walau tanpa berpegangan tangan

7. Emosi Ayah lebih stabil dibandingkan Bunda, karena fitrahnya Ayah tak hamil, tak melahirkan apalagi menyusui sehingga bias dikatakan jarang terpancing emosi yang membuat sikecil lebih nyaman berada didekat Ayah.

Setujua ga kira-kira Bunda? Ini hanya versi saya ya, jika ada yang mau menambahkan silahkan? dan karakter diatas tentu kembali pada masing-masing karakter individunya tersebut ya.

 

 

 

 

 

 


Komentar dan Tanggapan: