Jepet Rambut…Jepet!

Entah mengapa saya selalu tertarik jika ada penjual aksesoris keliling model begini, pasti ada saja yang saya sempatkan beli entah itu sekedar peniti kecil atau karet rambut yang warna-warni kecil itu. Sebetulnya yang dijual ga melulu seputar rambut sih, tutup panci juga ada ko. Namun penjualnya rata-rata teriaknya itu begitu…”jepet rambut….jepettt!!”  hihihi saking uniknya kadang banyak sekali yang saya suka atau sebaliknya bisa hanya beli 2 item saja karena sedikit yang disuka (tergantung bawaanya). Tapi pada intinya ada sensasi tersendiri saat saya menyaksikan pajangan aksesoris ini, yah sensasi harga murah dan meriah. Saya bilang begitu karena harganya rata-rata Rp.1000,- entah itu karet, jepit, bandana, sisir dll murah banget kan? dan tau sendiri kalau murah itu biasanya ga awetan, hahaha…tapi lumayanlah daripada manyun ga bisa iket rambut. 😛

Jpeg

Jadi pagi ini saya mendapati lagi bapak tua itu, ya ga tua banget siih separuh baya kaliiii ya yang berjualan jepet ini. Pertama ketemu disekolah PAUD lagi gantungin dagangan karena masih pagi ya ga ada yang beli (cuma saya saja itupun hanya Rp.2000).  Selanjutnya siang hari menuju sore saya terbelalak saat saya berhenti diperempatan Pasar Wage Purwokerto karena kebetulan disana lampu merahnya lama. Kenapa saya terbelalak? karena bapak-bapak separuh baya yang berpenampilan sederhana namun bersih itu sedang berjalan menyusuri panasnya jalan raya dengan perlahan tepat disebrang saya (hanya terpaut beberapa motor, namun untuk memutar agak sulit karena motor saya ditengah). :(

Ga tega melihatnya tapi kelihatan! (wong jalan disebelah arah kendaraan yang saya tumpangi) jadi mikirin dia ceritanya….berarti Bapak tua itu jalan kaki yang sangat jauh hanya dengan menjajakan aksesoris seribuan yang saya foto tadi pagi, ihiks. Sedangkan satu item saja untungnya paling Rp.200 dikalikan 100 saja hanya Rp.20.000 itupun jika laku sejumlah 100 item. Huwaaah…kenapa saya jadi mellow ya, sembari berdoa deh semoga besok ketemu si Bapak lagi buat borong pertanyaan (dimana rumahnya) plus  borong dagangannya, habis saya pikir dia berjalan/ menjajakan dagangannya ga sampai sejauh itu.  Ufh…Bapak, keberadaanmu mengingatkanku pada Bapakku…ah semoga sehat selalu ya! :)





Komentar dan Tanggapan: