Belajar Dari Kakek Tua (Tukang Sol)

Hari ini istimewa bagi Saya, karena apa? karena akhirnya Saya mendapati tukang sol yang setelah sekian lama dinanti. Masalahnya sepatu sisulung yang hanya memiliki 3 pasang (1  pasang sudah ngepas banget jadi sakit kalau dipake terus, 1 pasang bagian depan menganga, dan satu pasang lagi masih layak dipakai). Beli sepatu baru? tunggu dulu…!! bukan tak mau membelikan akan tetapi sepatu yang bagian depan menganga tersebut belum ada satu semester dibelinya (dan harganya cukup menggiurkan karena merknya) sehingga sebaiknya disol/ diperbaiki tentunya bukan? sepertinya terkena genangan air yang cukup lama sehingga perekatnya kurang kuat dan hasilnya menganga. Mau Saya lem sendiri ternyata lem dirumah sudeh kering, sepertinya memang harus menunggu tukang sol lewat depan rumah. Anehnya sudah jarang sekali yang biasa seliweran depan rumah, yang ada malah tukang tambal payung dan tukang jahit keliling yang sedang tak dibutuhkan.

Nah menjelang pukul 11 siang saat Saya sedang mengecek jemuran yang kering, tiba-tiba terdengar suara serak nan parau namun cukup kencang “sol sepatu…!!” langsung saja Saya teriak ” Sol Pak…..!!” dan begitu dirinya mendekat, alangkah kagetnya Saya…karena yang Saya panggil tersebut ternyata sudah tua alias kakek-kakek yang berjalan ringkih berkulit kering hitam seperti kehausan. Saya hampir tak percaya dengan yang Saya lihat, Sayapun menyuruhnya berteduh diteras dan memberikan sepatu sisulung. “Iniloo Pak, bagian depannya menganga …. sepertinya karena terendam air” Saya jadi teringat saat sisulung mencuci sepatunya ini selepas acara out bound. Yah benar dirinya merendam sepatu hampir setengah harian, hahaha…bagaimana tidak menganga ya pada akhirnya. Begitulah saat anak-anak mencoba untuk belajar, selalu ada yang salah namun jika tak salah tentu takkan pernah belajar bukan? (walaupun kadang hati Emaknya megap-megap) :p

pelajaran

Tukang sol tersebut hanya mengangguk dan mengiyakan Saya menurutnya sepatu ya pasti kaya gitu kalau kena air, lemnya ga kuat jadi harus dijahit begitu katanya (menggunakan bahasa Jawa). Baiklah Sayapun memberikan sepasang sepatu sisulung padanya, sepatu satunya sih hanya bagian pinggir tengahnya yang sedikit menganga dan masih bisa digunakan sebetulnya namun Saya simpan saja sekalian ditempat si Kakek  tersebut agar sekalian diperbaikinya. Ups…Saya hampir terlupa belum memberinya minum, Sayapun menyodorkan minuman bening dingin untuknya. Si Kakekpun tersenyum dan langsung meminumnya segelas tersebut sampai habis!

Sayapun terbelalak dan langsung mengambilkannya lagi dan Saya tinggal sesaat kedalam sembari mengerjakan yang lain. 15 menit pertama Saya tengokin, ko belum selesai ya? ah mungkin karena sepatunya dua alias sepasang sehingga agak lama. 15 menit kedua Saya pura-pura balikin jemuran yang belum kering. Bagaimana akan selesai? pengerjaannya saja sepertinya rumit sekali dan si Kakek tua itu mengerjakannya sambil bergetaran tangannya. Yah, seperti orang yang sudah sepuh pada umumnya yang memiliki kelainan saraf (sejenis pemyakit parkinson).

Rasanya Saya tak tega melihatnya, namun jikapun Saya hentikan rasanya kurang sopan juga, toh memang ini bagian dari mata pencahariannya. Hingga akhirnya tetap Saya biarkan saja menunggu. 15 menit berikutnyapun belum jua ada aba-aba suara darinya, hingga adzan dzuhur berkumandangpun belum selesai juga, Saya khawatir Saya tak mendengarnya atau terjadi apa-apa dengannya. Namun ternyata tidak, begitu Saya hampiri kembali ternyata hampir selesai rupanya dimenit 15 yang kelima. Artinya  mengerjakan sepasang sepatu yang menganga sedikit tersebut pengerjaannya hingga 75 menit saudara-saudara! Masya Allah…Saya tak sanggup mengenangnya, yah mengenang ketelatenannya menuntaskan pekerjaan yang dilakoninya dengan segala keterbatasannya.

Saya akhiri dengan bertanya, berapa Kek biayanya? dia hanya bilang nominal terentu yang sangat terjangkau. Sayapun kaget dan sengaja membayarnya 2x lipat, kebetulan sudah niat begitu dan melihat uang paspun tidak mendukung. Jalan Nya memang luar biasa, baru niat saja sudah diluluskan terbukti uang ribuan tak punya.a.  Dirinya tersenyum menerima uang yang Saya berikan sambil mengucapkan terima kasih. Saya yang harusnya terima kasih Pak, karena kedatangan Bapak membuat Saya belajar lebih banyak lagi. Bapak yang sudah sepuh dengan segala keterbatasannya saja masih bisa berkarya dengan  kucuran keringat halalnya, padahal tak sedikit pengemis atau penjaja sumbangan palsu yang masih muda dan segar begitu mudahnya meminta-minta dari rumah kerumah.

Sang kakek tersebutpun pamit seraya menyerahkan gelas kosong dan saat Saya tanyakan mau bawa air mineral Kek? dirinya menolak karena sudah kembung katanya dan sudah cukup berat bawaan dipundaknya (mungkin alasan saja karena tak enak hati). Saya tak banyak bertanya, kecuali alamat tinggal. Dirinya menjawab rumahnya jauh di Purbalingga dan menuju Purwokerto menggunakan bis kecil. Whats?! makin kaget Saya ya, karena sebegitu niatnya si Bapak ini menjajakan jasa solnya. Purwokerto- Purbalingga membutuhkan waktu yang cukup lama menujunya (sekitar satu jam tergantung bagian mana Purbalingganya). Rasanya makin ngenes hati ini sepeninggal Kakek tersebut, dalam hati kudoakan agar si Kakek laris dan selamat sampai tujuan. Atos-atos njih Mbah (Hati-hati ya Kek…!!)  :(

Kalau lihat beban dipundaknya seolah tak sanggup rasanya (apalagi jika Kita yang menjalaninya), dimana sudah seharusnya tinggal menikmati masa tua yang tenang. Namun Saya jadi teringat janji Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah : 286  “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya.”  dan Saya rasa kakek tersebut salah satu orang yang terpilih, Insya Allah.

 





Komentar dan Tanggapan: