Edukasi Dini Untuk Hidup Sehat : Hindari Penyakit Sebelum Sakit

“Bunda………..!!!”
Teriakan itu pasti terdengar ketika saya mengendap-mengendap berjalan keluar rumah dan menutup pintu perlahan (karena sebelumnya saat dibangungkan tak mau bangun dan terlihat sangat pulas), walaupun perlahan namun bunyinya itu tetap saja menaruh kecurigaan si bontot Aisha (3th) yang hebat. Tepat sekali! Aisha (begitupula dengan kedua kakaknya Alyssa (8th) dan Aqeela (5th)) sudah terbiasa ikut bergerak kemasjid bada adzan shubuh berkumandang. Alhamdulillah selain mendapatkan pahala karena mengerjakan kewajiban Nya, tentu dengan bergerak diwaktu shubuh dimana kualitas udara sedang baik-baiknya tak menutup kemungkinan mendapatkan stimulasi kesehatan secara alami. Itu salah satu cara saya dalam mengedukasi anak-anak, yang secara tak langsungpun memberi contoh masyarakat terdekat (sekitar). Walaupun pada jam tersebut tak sedikit warga masyarakat yang masih berselimut tebal, namun saya yakin dengan melakukan hal yang baik Insya Allah takkan pernah sia-sia hasilnya.

Menjadi jamaah shubuh pertama yang hadir, semoga menjadi anak-anak sehat dan sholehah. ;)

Menjadi jamaah shubuh pertama yang hadir, semoga menjadi anak-anak sehat dan sholehah. ;)

Sayangnya baik image positif maupun  negatif jika sudah membawa nama sebuah instansi hasilnya akan berdampak general. Termasuk kasus pemogokan dokter  yang membuat saya ikutan shocked, tak terbayang oleh saya bagaimana nasib ibu yang saat itu akan melahirkan bayi atau nasib para korban kecelakaan yang butuh pertolongan medis dengan segera atau nasib para pasien dengan kondisi gawat lainnya.  Semua berawal dari kasus dr Hendy Siagian, Dr Dewa Ayu Sasiari, SpOG dan DR. Hendry Simanjuntak yang didiskriminalisasi akibat kelalaiannya sehingga menimbulkan korban. Dokter juga manusia sehingga jiwa solidaritas itu tentu timbul dari ketidakterimaan mereka sehingga timbulah kontroversi.

Sebagai ibu rumah tangga yang tak suka dirumitkan dengan hal-hal yang bersifat kontradiktif, saya sangat memaklumi kedua belah pihak yang bertikai. Namun ada hal yang sepertinya mereka  lupa yaitu intropeksi diri. Faktanya tak semua dokter bersikap santai walau pasien penuh berjejal dan tak semua pasien pula menyalahkan pihak medis atas musibah yang diderita (walau terbukti  akibat ‘mal praktek’ misalnya). Alhamdulillah saya termasuk salah satu pasien yang mengikuti aturan medis ketika berada di rumah sakit, terutama rumah sakit bersalin. Mengapa saya katakan rumah sakit bersalin? karena pengalaman saya opname memang hanya pada saat  melahirkan anak-anak saja. Selebihnya tak pernah, Alhamdulillah.

Rumus saya yang juga sedang saya tularkan untuk anak-anak adalah Hindari Penyakit Sebelum Sakit, lalu bagaimana cara menghindarinya?  berikut pengalaman saya :

1. Tak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan
Saya termasuk orang tua yang membatasi anak-anak dalam pola konsumsi, jika tidak dibatasi anak-anak akan terbiasa makan terus, jajan terus yang terkadang tak dapat kita kontrol semua makanan yang masuk tersebut. Padahal semakin banyak asupan makanan yang masuk tentu pencernaan akan semakin berat dan membuat ngantuk. Efeknya anakpun jadi malas bergerak dan berfikir, resiko lain obesitaspun tak dapat dihindari.

2.  Cintai air putih (air bening)
Karena tubuh memerlukan cairan lebih banyak saat kita beraktifitas, tak perlu ragu lagi untuk mengkonsumsi air putih ini. Selain jenisnya yang dapat membersihkan racun dari tubuh yang dialirkan melalui hati lalu ginjal untuk dibuang. Air putih juga bersifat menyegarkan dan merawat kecantikan kulit sehingga menjadi lebih sehat. Saya paling peduli untuk urusan bawa botol minum kesekolah anak-anak, tujuannya agar anak-anak tak terbiasa minum-minuman lainnya disekolah (terlebih minuman instan).

3. Jadikan buah sebagai cemilan sehat
Agar anak-anak menyukai buah-buahan, sediakan selalu berbagai buah-buahan tersebut di rumah. Tentunya  orang tuapun harus memperlihatkan kecintaannya dalam mengkonsumsi buah salah satunya dengan menikmatinya bersama-sama. Tak ada salahnya pula bawakan bekal buah untuk anak-anak sebagai menu istirahatnya disekolah.

4. Rajin bergerak
Dengan bergerak baik melakukan aktifitas harian maupun berolahraga, waktupun menjadi tak terasa karena selalu saja ada yang dikerjakan (diluar jam istirahat/ tidur). Tulang persendian otomatis akan terbiasa (terlatih)  kuat (tidak lemas). Saya paling rewel jika hari libur misalnya melihat anak-anak bermalas-malasan, biasanya saya pancing mereka untuk bermain bersama, beraktifitas indoor  maupun outdoor termasuk berolahraga.

5. Istirahat yang cukup
Efektifkan waktu istirahat (terutama tidur) yang cukup semaksimal mungkin, karena masing-masing orang berbeda timing nya yang terpenting tidak kurang dari 5 jam/ hari (berdasarkan kecukupun tidur, namun jika berdasarkan normalnya dewasa sekitar 8 jam sedangkan anak-anak sekitar 12 jam). Dengan jam yang konsisten ritme tubuhpun akan terjaga dan jauh lebih prima.

6. Biasakan berfikir (sugesti) positif
Dengan senantiasa berfikir positif, pola prilakupun tercermin dengan baik dalam menyikapi segala sesuatunya termasuk dalam kasus mogok berjamaahnya para dokter ini. Saya berusaha untuk mengatakan pada anak-anak bahwa sakit yang diderita bukan suatu cobaan akan tetapi merupakan kenikmatan dari Nya. Karena tanpa sakit yang diderita takkan mungkin kita bisa menikmati hidup  sehat secara berarti.

8. Tak ketergantung dengan dokter (beserta obat-obatannya)
Saya termasuk orang yang  jarang berkunjung ke dokter ketika sakit, karena saya biasa meracik obat-obatan alami semampu  yang saya ketahui dan saya bisa. Contohnya ketika sianak demam saya pilihkan variasi buah yang mengandung air lebih banyak. Atau ketika tenggorokannya terganggu saya buatkan sayur bening (dari bayam misalnya) dengan campuran bahan kencur lebih banyak. Tentunya dengan catatan, jika mereka menolak karena tak cocok menunya sayapun memperlihatkan bahwa saya saja yang sehat mau memakannya apalagi yang sedang kurang sehat. tentunya jika lebih dari 3 hari tak kunjung sembuh maka sayapun harus kontrol ke dokter. Alhamdulillah sejauh ini sakit yang diderita keluarga sangat jarang sekali  sampai 3 hari, sehingga saya makin yakin bahwa Tuhan memberikan penyakit dengan solusinya (tinggal sejauh mana kita mampu melewatinya). Jadi selain berusaha dengan sikap yang tenang dan yakin bahwa penyakit itu adalah bagian dari sebuah proses tubuh yang sedang beradaptasi, kitapun tak ketergantungan dengan dokter atau obat-obatan yang ada.

9. Selalu bersyukur
Point terakhir ini adalah point terpenting karena jika dalam keadaan apapun dan bagaimanapun kita senantiasa bersyukur maka tak ada secuil nikmatpun yang tak dapat kita pungkiri. Termasuk nikmat sehat yang nilainya tak dapat ditukar dengan apapun. Saya jadi teringat ketika si sulung terjatuh dari sepeda roda duanya saat dirinya baru belajar bersepeda (diusianya yang ke 5). Dirinya malah mengucapkan syukur sembari tertawa karena dirinya masih beruntung jatuhnya bukan dijalan raya melainkan dijalan kecil saja. Tanpa isak, tanpa tangis sikapnya tersebut membuat saya bangga.

9 langkah saya diatas cukup efektif membuat anak-anak tetap sehat dan merasa enjoy ketika sakit. Jika anak lain menangis meraung-raung manja, anak sayapun tak jauh berbeda hanya saja kejadiannya  sesekali saja. Selebihnya tetap enjoy bermain, termasuk memainkan game favoritnya sehingga dia lupa bahwa dirinya sedang kurang sehat. Namun kepercayaan diri dan semangat untuk sehat memang harus dipupuk sedini mungkin agar kelak menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.

Menikmati demam dengan bermain games

Menikmati demam dengan bermain games, trik jitu untuk menikmati keadaan (sakit).

Untuk mengedukasi masyarakat itu sendiri agar lebih peduli kesehatan salah satunya adalah tak pelit (termasuk ‘jaim’) untuk berbagi informasi. Misalnya saat memeriksa batuk pasien, tak sekedar periksa semata namun ajak berkomunikasi dan katakan jika tak sempat beli obat diapotik buat perasan jeruk nipis sendiri itu lebih baik. Sehingga dokter fokus terhadap penyakit-penyakit yang terbilang berat dan akut saja. Dengan begitu tak ada lagi istilah pasien mengantri hingga puluhan jam hanya untuk mendapatkan giliran cek up saja. Selain itu pihak medispun dapat menjemput bola dengan mendatangi beberapa daerah (terutama daerah yang belum tersentuh misalnya). Alternative lain masuk ke sekolah-sekolah untuk membuka pelayanan (check up gigi gratis), dengan memberi  penyuluhan bahwa penyakit dapat dihindari jika kita mau konsisten untuk hidup sehat. Untuk periksa gigi gratis ini pernah pula sekolah TK anak-anak saya disambangi, betapa senangnya mereka. Image bahwa dokter itu menakutkan tak lagi membekas.

Dokter gigi menyeramkan? terselamatkan melalui cek langsung kelapangan :)

Dokter gigi menyeramkan? terselamatkan melalui cek langsung kelapangan :)

Kesimpulannya : mari berfikir cerdas untuk tidak menjadi pribadi yang manja dan tak ketergantungan dengan hal apapun termasuk masalah kesehatan.  Jika kita masih bisa menanggulangi sendiri, kenapa tidak? yang terpenting tetap berusaha tanpa mengabaikannya. Tentunya jangan pernah berhenti untuk belajar, termasuk ketika kita check up ke dokter  jangan pernah sungkan untuk bertanya hal apa saja yang memang tak kita ketahui untuk antisipasi selanjutnya (karena pasien/ konsumen memang berhak untuk tahu).  Sebaliknya dokterpun berkewajiban untuk menjawab segala pertanyaan yang diberikan pasien. Jika sudah terjadi  keseimbangan antara hak dan kewajiban namun terjadi  ‘kelalaian’ juga didalamnya, tak perlu banyak menuntut namun tuntutlah diri kita sendiri mengapa kita lalai intropeksi. Its simply right?

 





Komentar dan Tanggapan: