E-Learning : XLangkah Lebih Maju Tanpa Banyak Menyita Waktu

Ada kejadian yang membuat saya tersenyum (so lugu!) saat ibu saya sedang  berkunjung kerumah lalu Beliau merindukan kakak laki-laki saya. Saat ditelp, hapenya tak diangkat-angkat…lalu entah inisiatif darimana sisulung Alyssa (8th) menarik tangan neneknya  dan menyalakan lap top Saya lalu membuka FB Pakde nya tersebut melalui akun saya yang memang otomatis sedang Online“Ini Nek…Pakdenya, kalau kangen lihat saja fotonya sama statusnya hari ini tuh lihat hapenya ketinggalankan baca deh status terbarunya nih Nek”  sembari memperlihatkan layar. Ibuku yang tergolong gaul (walau sudah cukup berumurpun) ikutan Kepo (sok ingin tahu). Finally… Ibu  mengucapkan syukur bisa melihat anak laki-lakinya tersebut dalam keadaan sehat  (melalui beberapa status dan foto yang diunggah putranya tersebut dalam waktu dekat). Hihihi, lucu deh melihatnya  dan Kitapun akhirnya dapat ikut tersenyum melihat Ibu tersenyum.

Anak-anakpun suka e-learning :)

Anak-anakpun wellcome dg e-learning 🙂

Kejadian diatas  adalah salah satu contoh sederhana (nyata) dalam penerapan  E-Learning (pelatihan via internet) di rumah. Bahkan jika sudah terbiasa tanpa dilatihpun anak-anak sudah dapat menggunakannya dengan sangat baik. Tinggal sebagai orang tua memantau dan memfilternya agar tak salah akses. Faktanya internet  memudahkan kita menjadi terhubung dengan siapapun hingga  dibelahan dunia manapun, termasuk belajar apapun secara otodidak.

Lalu bagaimana jika  E-Learning  diterapkan disekolah? tentu saja manfaatnya akan lebih terasa seperti  :

1. Siswa jadi ‘melek’ teknologi
Karena tak sedikit masyarakat kita menjadikan teknologi hanya sekedar style semata tanpa mengetahui lebih lanjut fungsi positifnya.

2.  Pembelajaran lebih mudah, tak perlu membawa buku tebal
Ironi jika melihat anak-anak terutama yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar namun membawa buku yang  besar-besar, dengan tas besar dan kamus besar. Padahal disekolah tak semua yang dibawa tersebut dipelajari. Sistem E-learning tentu jawabanya : siswa hanya datang kesekolah dengan semangat dan buku peralatan seperlunya saja untuk berdiskusi.

3. Koreksi lebih mudah terkontrol dalam hal pemberian nilai, absensi hingga komunikasi satu sama lainnya. Karena semuanya sudah ter cover dalam program yang disediakan.

4. Jangkauan menyeluruh sehingga tak ada istilah guru ketinggalan up date materi tambahan dari pusat misalnya, perubahan kurikulum hingga siswa ketinggalan mata pelajaran (terutama bagi yang tak masuk). 

5. Efisiensi waktu sehingga waktu lainnya dapat digunakan untuk kegiatan outing class misalnya atau beberapa tambahan mapel dalam prakteknya (jadi tak hanya sekedar teori).

Namun apakah semua sekolah dapat menerapkannya? harapan tentu selalu ada, namun faktanya globalisasi (terutama internet) belum sampai ketahap desa (terutama desa terpencil). Karena tak semua sekolah memiliki akses yang baik dalam berinternet. Beberapa daerah pelosok yang masih terpencil bahkan harus ke kota terlebih dahulu untuk menikmatinya. Namun jika dikota besar atau bahkan wilayah administratif kemudahan E-Learning ini akan lebih terasa manfaatnya seperti 5 manfaat yang saya sebutkan diatas.

Tentunya saya  merasa salut terhadap XL yang mampu bergerak sejak tahun 2009 menjalankan program KUSI (Komputer Untuk Sekolah Interaktif) hingga sampai saat ini berjumlah 186 sekolah di  Indonesia.  Dengan beberapa programnya seperti : pemberian komputer (termasuk modem dan akses internet gratis), pelatihan untuk guru, E-learning untuk guru dan siswa (agar mampu memaksimalkan pengunaannya), pengenalan internet yang sehat dan aplikasi Sifoster (Sistem Informasi Sekolah Terpadu) untuk komunikasi bersama (antara guru, orang tua dan siswa).

Bangga, ya tentu saja!
Karena tak banyak provider yang peduli dengan dunia pendidikan bahkan hingga bergerak menjalankan programnya.  Sebaiknya memang E-Learning bisa dirasakan oleh semua elemen masyarakat dimanapun jangkauannya termasuk guru dan siswa di desa sangat terpencil sekalipun. Tak jarang sosok cerdas berasal dari daerah terpencil semacam itu karena memang semangat belajar yang tinggi, termasuk semangat membangun negeri. Walaupun E-Learning lebih banyak sisi positifnya namun akan lebih baik sekolah yang menerapkan sistem ini tak menjadikan pola yang utama namun sebagai pola tambahan saja. Karena bagaimanapun sistem ini memiliki kelemahan yaitu :

– Membuat siswa menjadi malas bergerak, karena semua sudah tersaji.
– Mengandalkan sistem jaringan internet yang mana jika jaringannya rusak tentu         semuanya tak dapat diakses.
– Tak semua individu menggunakan internet secara sehat

Hal tersebut diatas perlu diantisipasi dengan adanya pengontrolan baik dari pihak pemerintah, sekolah (guru), orang tua dan individu siswa itu sendiri. Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tersebut dapat diantisipasi. Saya lihat program KUSI diataspun sudah mencakup solusi dari permasalahan yang saya ungkap tersebut sehingga kedepannya saya hanya berharap program KUSI  terus ditingkatkan terutama masuk kedaerah-daerah pelosok agar semua sekolah di Indonesia bisa menikmati internet sehat yang tak pernah habis informasinya. Harapannya Indonesia menjadi XLangkah lebih maju tanpa perlu malu belajar hingga menjadi tahu tanpa perlu banyak menyita waktu. Sehingga Indonesia Berprestasti bukan lagi angan-angan, tapi sebuah gerakan yang pasti.

Taken From : Cover TL Indonesia Berprestasi

Semangat  XLalu Indonesiaku…!!! 🙂

Referensi : http://www.indonesiaberprestasi.com/kusi

Lets Join :
Indonesia Berprestasi
@indberprestasi


Komentar dan Tanggapan: