Sekolah “Murah” Identik Dengan Pengajar Yang Tak Maksimal, Why?

“Aku ga mau sekolah ah besok ada Pak Dokter soalnya” polosnya Aqeela (5th) mengagetkan saya.   “Hah masa anak pintar takut sama dokter?” Jawab saya
“ Ya kata buguru besok kalau ada gigi yang goyang nanti dicabut sama dokternya, jadi aku ga mau sekolah uh..!” jawabnya makin geram.
“Semua teman-teman jugakan diperiksa, ga hanya Aqeela…ntar ga masuk nyesel loh ga bisa mainan, senam dan ketawa bareng temen-temen” goda saya.
“Emoh…..!”
jawaban terakhirnya membuat saya mati kutu dan saya tak bisa memaksakan dirinya untuk masuk sekolah.

paling tidak bisa beraktiitas seru bersama teman-teman menjadi point plusnya

Paling tidak bisa beraktiitas seru bersama teman-teman menjadi point plusnya

 Sayapun rada ngikik melihat tampang zuteknya yang menggemaskan.  Ah entahlah dia takut ketemu dokter dari mana, saya coba mengenang masa lalu bersamanya. Yah saya  akui saya memang jarang ke Dokter, terakhir ke Dokter waktu imunisasi saja. Selanjutnya tak pernah lagi karena memang anak-anak saya jarang sakit. Sekalipun sakit paling hanyaa demam biasa dan pengobatan alamai yang biasa saya lakukan adalah perbanyak mengkonsumsi buah saja, pernah mengalami diarepun saya coba beli herbal Alhamdulillah sembuh.  Jadi apa yang membuat anak saya takut?

Usut diusut ternyata Image dokter yang ada pada memorinya ternyata adalah seraam, terlebih bu guru di sekolah seringkali berkata Jangan nakal ya anak-anak nanti kalau nakal disuntik dokter…! auw saya sendiri yang mendengarkan hal tersebut suka ngelus dada. Pertama karena terlalu seringnya berkata JANGAN, kedua ya secara tidak langsung sianak seolah ditakut-takuti dengan keadaan yang tak sebenarnya. Lalu kenapa saya masih menyekolahkannya ditempat yang umum seperti itu? Saya pikir karena lokasi dekat dengan rumah sehingga jika saya tinggalpun tak terlalu merepotkan, kedua harga masuk dan spp yang terbilang terjangkau dan sianakpun menyukai tempatnya yang berada di pinggir jalan (namun bukan jalan utama) belum lagi areanya yang luas dibandingkan sekolah (PAUD) sebelumnya membuatnya betah berlama-lama bermain disana terlebih lagunya sangat beragam, sehingga seringkali setiap pulang sekolah Aqeela menyanyikan lagu baru yang dibawanya kesekolah. Anak-anak kerap kali menyukai arena permainan yang luas karena orientasinya memang bermain dan bermain. Alasan tersebutlah yang membuat saya agak ‘memaksakan’ diri untuk bergabung disana.

Walau jujur dengan metode pelajaran yang ada saya sering ga sreg terlebih dengan perkataan Bu guru terhadap si anak. Masih TK sudah dijejali PR, seringkali berkata “Jangan..”!!  sambil berteriak keras nan lantang belum lagi harus  duduk manis yang tak duduk manis  dihukum (berasa di SDN jadinya) :) .  Namun apa boleh buat semua wali muridnyapun manut-manut sehingga jika saya memberi masukan namun tanpa dukungan, berarti percuma saja.  Solusinya, saya tinggal menikmati keadaan ini dan saya yang terus memberikan contoh yang lebih baik dari yang sekolah berikan. Seperti : “Bunda kata bu Guru katanya nanti mancing, katanya nanti kesana atau nanti ke daerah itu dll tapi mana? Kapan?” Lagi-lagi saya yang harus menjelaskan mungkin maksud Bu Guru itu kapan-kapan yang entahlah kapan. Hahaha (bingung juga saya). Itu salah satu lagi yang membuat saya berontak, kenapa anak seringkali dijanjikan dengan hal yang tak perlu? Owh tidak….!!!  :(

Saya coba berkaca pada sekolah si Kaka sebelumnya yang memang tergolong sekolah yang lebih Islami (bukan umum)  sangat-sangt kontras rasanya dengan sekolah si adeknya ini, haduh saya merasa agak bersalah karena telah menyekolahkan ditempat berbeda. Maafkan Bunda ya Nak bukan maksud Bunda membeda-bedakan sekolah namun situasinya kali ini berbeda. Saya pikir karena usia dini masih sekedar main-main saja sehingga belum perlulah disekolahkan ditempat yang banyak menguras kocek, hehehe. Namun saya berjanji Sekolah Dasar nya nanti akan saya sekolahkan disekolah yang sama dengan Kakak tentunya yang berbasis Islam Terpadu (IT) agar hati saya tak lagi khawatir dengan perlakuan dan kata-kata yang memang tak lazim untuk dibiasakan baik dari para pengajarnya maupun lingkungan sekolahnya. Lagi-lagi harga membawa rupa (dan berlaku tak hanya pada jenis barang saja) Mengapa selalu yang mahal itu berkualitas dan yang terjangkau itu tak maksimal ya? apa karena bekerjanya tak dari hati atau karena ‘bayaran” nya sedikit atau karena aktor lain? Entahlah namun saya masih berharap ada perubahan…tak perlu berlebih mengharapkan sekolah gratis namun lebih kepada sekolah berkualitas yang lebih terjangkau sehingga siapapun orangnya berhak mendapat perlakuan terbaik yang diberikan para pengajarnya dengan tulus. Walaupun yang lebih penting adalah peran keluarga (terutama ibu) sebagai pilar utama (sentral) dalam membentuk karakter anak menjadi pribadi seperti apa dimasa depannya.


Komentar dan Tanggapan: