Mencoba Sedikit Berbagi Melalui Tango Hand in Hand : Mengutas Senyum Anak-Anak Nias

 “Mamah…ini bukunya untuk siapa” sibontot Aisha bersuara ketika begitu banyak buku berserakan dilantai semalam sebelum dirinya beranjak ketempat tidur. Saya jawab saja “Untuk temen-temen Aisha di Nias sayang, boleh yaa”  sambil kutatap mata bulatnya ” Owh Nias, boleh” bocah 3 tahun itupun hanya tersenyum tanpa mengerti apa yang sebetulnya terjadi. Dimata beningnya yang bulat saya hanya menatapnya sesaat seraya bersyukur tiada henti, karena anak saya tinggal bersama saya dengan ekonomi dan kondisi yang sehat (tak habis pikir jika anak-anak saya yang berada di Nias).

Nias sebuah pulau yang terletak disebelah barat pulau sumatra ini menjadi sasaran utama Tango Hand In Hand With Female Daily yang juga merupakan perluasan dari  program sebelumnya yaitu Tango Peduli Gizi. Dimana program itu bergerak dalam pemulihan gizi anak-anak Nias dibawah naungan Balai Pemulihan Gizi yang bekerjasama dengan Yayasan Obor Berkat Indonesia (OBI). Didalamnya mereka memberikan makanan bergizi tambahan selama tiga bulan penuh untuk sekitar 500 anak yang berusia 0-12 tahun. Kenapa harus NIAS? karena menurut Yuna Eka Kristina (Marketing OT Group) ternyata masalah gizi buruk disana belum ada yang menyentuh dan itu bukan semata karena faktor ekonomi saja akan tetapi dari berbagai multifaktor yang saling terkait. Sehingga dari tahun 2010 Tango Peduli Gizi  diselenggarakan dipulau tersebut mulai dari gizi anak hingga gizi keluarga.Sebetulnya kedaerah manapun sasaran utamanya  tak terlalu penting bagi saya karena yang terpenting jika tujuannya baik untuk menuntaskan gizi buruk/ membuat anak Indonesia tersenyum akan saya dukung selalu dan  satu kata untuk Tango, salut!! terlebih program kali ini melibatkan masyarakat juga untuk mendonasikannya. Saya berharap selain saya, banyak juga masyarakat lain yang peduli dan terlibat  (menjadi bagian dari program ini).

Berawal dari membaca status di Fans Page Wafer Tango, dan menonton video ini :

Tango Hand in Hand for Nias
Tango Hand in Hand – teaser #1
Tango Hand in Hand – teaser #2
Tango Hand in Hand – teaser #3

http://www.youtube.com/watch?v=dvXAocLeYvA

Rasanya hati ini meleleh dan tak kuat menahan tetesan air mata ini yang jatuh dengan begitu mudahnya. Betapa … masih banyak sekali duka melanda, kekurangan (gizi) di mana-mana bahkan dilingkungan terdekat kita sekalipun. Jadi berbagi itu memang tak perlu jauh-jauh, namun jika ada sarananya kenapa tidak ikutan berpartisipasi saja (karena kesana sendiripun rasanya tak mungkin!) Saya pun mencoba membaca aturan mainnya, sembari mencocokan tanggalnya. Waw…date line lusa (karena saya membacanya tanggal 28). Walaupun saya baru mengetahuinya namun saya rasa masih belum terlambat…!  Yah, walaupun saya tak punya banyak buku dan tak punya banyak mainan (karena prinsipnya jika sudah tak terpakai memang hibahkan pada yang membutuhkan agar lebih bermanfaat) sayapun mencoba mengumpulkan beberapa buku bacaan anak yang tersisa. Saya coba bicarakan saja pada siempunya buku yaitu  si sulung Alyssa dan adiknya Aqeela untuk memilihnya.
Pilih-pilih buku untuk anak NIAS

Merekapun mengangguk tanda setuju, walaupun ujung-ujungnya lebih banyak yang menurut mereka masih  terpakai (masih dibaca) dan si 5 th lebih sering bilang “jangan yang itu…! masih dibaca aku” hehe tapi saya tetap menghargai ketulusan mereka untuk mau berbagi walaupun sedikit (karena sesuatu yang banyak itukan dimulai dari yang sedikit bukan? yang penting keihlasannya dalam berbagi). Sembari si empunya buku memilih buku mana yang mau disumbangkan, sayapun mencoba bergerak (kesahabat terdekat sekaligus tetangga) yang sama-sama memiliki anak dan suka baca. Begitu saya menyambangi rumahnya dengan penuh suka cita Ibu dosen yang sedang hamil ini berujar “yah telat Bu soalnya baru kemarin saya sumbangkan juga ke anak-anak yang sedang KKN, tapi sebentar saya cari dulu semoga masih ada yang bisa disumbangkan walau hitungan jari ya”. Seuntai senyum tulus terurai dari wajah lembutnya. 

Walau hitungan jari makasih bantuannya temans 😀
Begitulah pribadi-pribadi yang berjiwa sosial tinggi, tak pernah menolak untuk diajak berbagi, karena rezeki memang takkan pernah berhenti menghampiri walaupun kita bagi dan satu lagi, materi takkan dibawa mati! justru amalan lah yang kelak meringankan beban dosa kita. So…pilih yang mana : menumpukan harta didunia tanpa ada manfaatnya? atau menabung amalan akhirat? (nah loh) ^_^
 
Mainan ini masih layak pakai untuk anak NIAS
Setelah terkumpul buku bacaan anak yang ada ternyata belum banyak juga (belum sekardus). Akhirnya sayapun melirik mainan yang ada dalam toples. Mau saya tanya pada anak-anak, mereka sudah terlelap semalam, padahal mau saya bungkus langsung agar besok (hari ini) bisa dikirimkan. Yah namanya juga taunya mnedadak, jadi semuanya serba instan dan yang ada saja yang penting bantuan tetap tersalurkan dan niat kita adalah baik.  Saya rasa anak-anak saya sudah bosan memainkannya sehingga tanpa pikir panjang lagi saya masukan juga kedalamnya (agar ukurannyapun menjadi pas). Alhamdulillah niat semalampun langsung jadi, memang tak berasa jika bekerja disertai ngemil Wafer Tango (apalagi versi crunch cake).
Hasil packing malam hari, semangat berbagi!!
Berbicara mengenai semangat berbagi, memang harus dimulai sejak dini dan dimulai dari dalam diri terlebih dahulu. Seperti ketika saya bersuka cita menyambut pengamen yang menyambangi rumah, tiga putri sayapun menjadi terbiasa respect dengan bunyi-bunyian yang datang walaupun masih jauh terdengar, si anak dengan sendirinya malah membuka pintu (yang tadinya sedang tertutup) dan mengambil lembar rupiah yang memang sudah saya siapkan khusus di wadah yang mudah dijangkau. Tujuannya agar setiap didatangi pengamen, pengemis atau yayasan sudah siap dengan lembaran biru dan abu-abu yang ada (yang memang sudah disiapkan) tanpa harus mencari-cari lagi sehingga harus berkata “maaf ya pak”.

Termasuk ketika Tango Wafer sering mengadakan program sosial, sayapun menjadi lebih loyal lagi dengan jajanan yang wajib ada dirumah ini. Karena saya mendukung kepedulian Tango Wafer, sayapun tidak tinggal diam untuk sedikit berbagi Tango terhadap orang-orang yang saya temui, dengn harapan saya mampu menemukan senyuman di wajah mereka. Karena sayapun peduli terhadap mereka.
Wanita bertopi ini entah siapa namanya yang jelas orang ini sering berada diperempatan jalan yang kadang saya lalui, dengan gaya yang selalu sama. Yang jelas dia adalah wanita dengan keterbatasan mental yang sehari-harinya lebih suka berdiri saja dengan sebuah tas dikiri lengannya. Gayanya yang sering  menundukan kepala seperti itu (makin tertutup dengan topinya) dan jari tangannya yang agak gemetar membuat orang yang meilhatnya memahami kondisinya. Saat kuberikan Tango Wafer dia meresponnya dengan menggenggam erat langsung si Tango tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun. Tak mengapa yang penting saya hanya ingin melihat responnya walaupun sedikit saja, saya lega melihatnya. Saya berjanji dalam hati untuk terus melakukan hal yang sama ketika melewati jalan itu lagi.
 
Sedangkan dua anak laki-laki ini adalah Umar & Muadz, entahlah saya begitu salut terhadap keberadaan mereka. Yah mereka adalah anak Yatim dari kampung sebelah yang sering mengikuti sholat berjamaah di masjid dengan tertib dan khusyu. Tak seperti umumnya anak kebanyakan seusianya yang hanya bermain-main saja  bahkan terbilang menganggu. Tidak dengan mereka, selain khusyu dalam ibadah merekapun santun dalam bertutur kata dan berprilaku sehingga membuat saya sangat sayang terhadap mereka. Kebetulan saya tidak memiliki anak laki-laki sehingga melihat kebaikan dan kepintaran mereka membuat saya seolah  melihat malaikat kecil dalam hati mereka. Sehingga tak salah jika saya bagikan Tango Wafer pada mereka karena memang saya peduli terhadap mereka. Saya berharap bisa selalu berbagi dengan mereka dan bisa melihat mereka sehat agar bisa menularkan hal positif terhadap anak lainnya (termasuk 3 putri saya).

Lain lagi dengan cerita gadis mungil ini, Lela panggilannya usianya yang tidak sesuai dengan tumbuh kembangnya membuat saya terbawa prihatin melihatnya. Terlebih melihat background keluarganya yang makin tak jelas yang tak bisa saya ceritakan detail karena dia memang belum waktunya mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tinggal bersama mbahnya yang hanya mengandalkan uang pensiunan veteran dengan rumah yang penuh kebocoran (yang jika hujan dijamin kebanjiran). Melihatnya membuat saya selalu ingin berbagi dengannya (karena tak kuat menahan keharuan itu) disetiap kesempatan (jika bertemu), yang jelas saya peduli dengannya dan selalu ingin melihatnya tersenyum. Yah senyum anak indonesia yang sehat tentunya dambaan kita semua, karena mereka adalah generasi bangsa yang perlu kita gali semangat belajarnya untuk memajukan indonesia menjadi bangsa yang lebih maju dan cerdas.
Semangat berbagi tak cukup sampai disini dan tak perlu banyak perhitungan ketika memberi. Biarlah menjadi urusan yang DIATAS toh semua harta di dunia ini hanya titipan, sehingga tak perlu kita khawatir dengan harta yang ada disekeliling kita sekarang ataupun nanti.
Narsis sembari semangat berbagi, sambil bilang “tgl 30 Agustus sampai ya pak!” 😀
Jika saya saja tergerak, kenapa anda tidak? hayu…ah masih ada waktu 1 hari lagi karena tak ada kata terlambat untuk berbagi, karena pengiriman donasi (berupa buku dan mainan layak pakai) di tunggu sampai tanggal 30 Agustus 2013 (saya edit lagi nih karena ternyata diperpanjang hingga 30 September 2013, huwaa padahal saya sudah bergerak cepat, tapi tak mengapa tetap berusaha think positive to artinya  kesempatan masih panjang untuk mengajak semua sahabat untuk turut berbagi). Oiya karena domisili saya berada di Purwokerto Jateng otomatis saya kirim melalui jasa pengiriman TIKI namun jika berada di wilayah domisili terdekat silahkan saja kirimkan langsung ke :
Kantor Wafer Tango
Jl. Lingkar Luar Barat Kav 35-36 Cengkareng
Jakarta Barat 11740 

Siapa tahu Anda atau Saya, terpilih menjadi dua orang paling beruntung menikmati perjalanan ke Nias di bulan Oktober mendatang atau menjadi tiga orang terpilih yang mendapatkan tabungan pendidikan @Rp.1.000.000.- Hmm…sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui bukan? Lets go guys! …go..go..go together hand in hand. Together make them smile in simple way. 


Komentar dan Tanggapan: