Gadisku Mendebarkan Jantungku

Ufh…Alhamdulillah anak gadisku yang biasa ku panggil kaka hari ini sudah tidak muluk-muluk requestnya seperti hari Sabtu kemarin. Yups karena setiap hari sabtu pulangnya lebih awal dari biasanya jam 10an lebih (sedangkan hari biasa pukul 02.15)  dan menggunakan baju muslim bebas (yang penting bukan tshirt) jadi tiba-tiba saja malam harinya dia berinisiatif menggunakan sepeda. Ku pikir hanya sekedar keinginan semu anak yang akan menginjak usia 8 th an tersebut. Mulai dari mencuci hingga mengelap sepeda dengan sangat hati-hatinya dia lakukan, belum lagi menuntaskan gambar sticker di stang sepeda machonya (hihihi iya karena sepedanya sepeda bmx yang pada saat pembelian dahulu hanya ada itu ukuran yang tepat untuk usia 6 th nya, sedangkan pilihan  lain hanya ada strawbery yang persis dengan sepeda yang dimilikinya sebelumnya/ yang kini jadi milik adiknya — otomatis pilih sihijau wim cycle tsb yang diboyong). Jadi jangan tanya lagi kenapa sepedanya pake sepeda cowok ya? ^_^

Sabtu pagi setelah mandi menjelang sholat shubuh aku mendapati secarik kertas dalam lemari bajuku yang isinya “Bunda kaka besok boleh pakai sepeda kesekolah yah, boleh ya kalau ga boleh ya gapapa berarti kaka pulangnya jalan kaki” Belum apa-apa jantung ini rasanya berdesir shock campur haru mengingat sisulung yang dimataku ya masih terlihat anak-anak tapi ko berani minta kesekolah pakai sepeda, hehe…mungkin kalau jalan yang dilaluinya hanya jalan biasa (bukan jalan raya) dan jaraknya tak terlalu jauh sih aku juga tak terlalu risau. Akan tetapi sekolah si kaka lumayan terbilang jauh juga dan melewati beberapa perempatan, kalaupun motong kompas tetap saja ada beberapa pertigaan yang rasanya belum cukup pantas dilalui olehnya, terlebih dirinya belum berpengalaman bersepeda sendiri kejalan raya/ jalan besar, biasanya selalu saya temani itupun jaraknya tak terlalu jauh.
Jika tak ku acc rasanya juga tak mendidik, wong inisiatif sendiri ko, belum lagi rengekannya itu yang ga nahan sambil mengeluarkan air mata. Akhirnya setelah ku bisiki sang ayah, keluarlah lampu hijau itu dan betapa sumringahnya dirinya ketika DIPERBOLEHKAN. Namun naluri seorang ibu tetap saja masih sedikit was-was, khawatir ga fokus dijalan apalagi matanya sering jalan-jalan sendiri kalau lihat sesuatu. Solusinya ku ikuti saja kepergian perdana menuju sekolah dengan sepeda tersebut. Kukatakan saja “Bunda mau liat kaka sampai jalan rayanya saja ko ga sampai kesekolah” diapun mengangguk tanda setuju.
Dari arah belakang kuikuti terus perjalanannya, mulai terlihat grogi ketika menghadapi perempatan lampu merah yang sudah terlihat hijau dirinya malah minggir kesamping bukannya malah lurus saja hehe. Dan setiap menemui pertigaan / perempatan (tanpa lampu) yang posisinya masih lurus sajapun dirinya tak mau berhenti atau pelan saja dirinya malah milih belok sebentar menghindari kendaraan yang menghalanginya. Whaduh pokonya bikin saya yang meilhatnya dari jauh kebawa deg-degan.
Uniknya lagi ketika hampir sampai memasuki gang sekolah, dirinya berhenti sangat lama padahal kondisi jalan tak terlalu ramai yah masih terlihat sangat grogi untuk menyebranginya.
Pas 30 menit perjalanan menuju sekolah sampai juga Alhamdulillah, tepat pada pukul 06.45 dirinya sampai,  pas bel masuk berbunyi dan gerbang ditutup oleh ustadzah.

Ku lihat saja dari luar gerbang, si KK masih terlihat sangat segar setelah menempuh 30 menit perjalanan yang mendebarkan. Dirinyapun langsung berlari menuju lantai atas kelasnya (kelas 3 Ibrahim). Ku menunggu sejenak berharap si KK muncul didepan kaca untuk menengok kebawah dan menyadari bahwa Bunda ada dalam hatinya dan sedang menunggunya dibwah sana, hehe…
Alhamdulillah setelah 5 menit berlalu muncul juga wajah cantik putriku di balik jendela sana seperrti yang kuharapkan. Terima Kasih ya Rabbi…kau mendengar kata hatiku, aku hanya ingin menatapnya walau sekilas saja karena pulangnya nanti ku tak tau bisa melihatnya lagi atau tidak.


Selama perjalanan ku masih tak habis pikir memikirkan keberanian si Kaka yang menempuh perjalanan bersepedanya selama 30 menit di jalan yang terbilang tak bersahabat (karena banyak kendaraan dari berbagai jenisnya, terlebih melewati pertigaan terminal utama kota). Tak heran disekolahpun hanya hitungan jari saja anak yang membawa sepeda. Terbukti pada saat bel masukpun kudapati roda dua ontel tersebut hanya berjumlah dua saja (plus sepeda putriku).

Entah rasa yang berlebihan atau apalah namanya, menginjak jam 10 sayapun berniat kesekolah si kaka lagi setelah menjemput adeknya disekolah TK. Akupun berusaha menikmati setapak demi setapak perjalanan tersebut dengan panasnya matahari yang mulai teriiik. Setiba disekolah si kaka,  kulihat dirinya masih bermain mengumpulkan batu kerikil kedalam botol untuk dijadikan alat musik sepertinya, hehe…santai banget pokonya kalau hari Sabtu dan hari hari biasapun memang sekolahnya sangat nyaman baik dalam pengajaran maupun materi yang dsiampaikan. Bersyukur selalu mendapatkan sekolah yang jauh dari kediktatoran, guru yang galak, saklek, dll (kaya sekolah Bunda nya dulu).

Si kakapun menyadari ternyata kehadiranku, sambil tersenyum dirinya bertanya “loooh ko Bunda kesini lagi sih, kan kaka pulangnya pake sepeda sendiri…Bunda pulang aja sana gpp kaka masih lama ko” kutatap wajahnya dg seksama sambil ku kakatakan “Bener kk pulang sendiri? panas banget loh ka…hati-hati ya dijalannya, fokus dan berhenti (pelan) kalau lewat pertigaan/ perempatan” dirinyapun mengangguk sambil tersenyum dan akhirnya pulang duluanlah diriku (tak jadi mengekor dari belakang karena masih lama juga pulangnya).

Kutunggu dirinya dirumah sambil terus berdoa, kulihat jam 11 belum pulang juga huwaaa ku tak sanggup! akhirnya ku suruh sang ayah saja untuk mengintainya….dan 15 menit berikutnya terdengar ucapan salam dari luar sana dengan wajah penuh senyum dan riang dirinya tertawa, “tadi dijalan ketemu ayah loh Bund…tapi ayahnya cuman sampai jalan raya saja terus langsung kerja lagi” (dia tak menyadari bahwa aku yg menyuruh si ayah mengintainya). Kupeluk dirinya erat sekali dan ku tak sanggup, belum sanggup untuk melepaskannya kembali. Kutanya dirinya pun merasa lelah dan itu membuatku makin tak mengijinkannya untuk melakukan hal yang sama.

Akupun menjelaskannya bahwa dirinya boleh seperti itu lagi setelah kelas 5 dengan sepeda yang baru (sepeda besar dan sepeda cewe), Insya Allah diusianya yang ke 10 lah dirinya bisa kulepas kejalan raya sendiri. Whaduh walaupun sudah lewat harinya, namun deg-degan itu masih terasa benar-benar ya gadisku itu mendebarkan jantungku. Salut Nak atas keberanianmu, ku yakin Allah selalu bersama dirimu namun hati ibu tak ada yang tau (selain yang memiliki hati ini) hati ini belum siap melepasmu sayang seberani apapun jiwamu.


Komentar dan Tanggapan: