10 Hari Terakhir Ramadhan : Mall Padet Masjid Lowong (Ketidakseimbangan Pilihan Hidup Yang Salah Kaprah)


Setiap tahun menjelang hari raya saya selalu merinding, terutama kalau sudah jalan-jalan keluar hwidiiih jalan-jalan penuh, mall end pasar apalagi full nya luar biasa ampe ga bisa nafas kali. hihihi…pengalaman waktu masih single dulu saya pernah kecopetan end sempet pingsan saking shock nyah! yah karena copetnya pinter banget, yang pake silet ituloh modusnya deket2 ikutan berburu baju tau-tau nyobek tas saya ihiks. Sebel kalau inget itu semua, tapi sekaligus pelajaran bagi saya supaya menjelang hari H tersebut justru tak usah kemana-mana. Beres-beres rumah end persiapan mudik saja  mendingan (diluar ibadah ritual).

Herannya mushola, dan masjid malah pada lowong alias longgar yah padahal sebelumnya berjubel rebutan mencari perhatian Nya. Padahal kalau dicerna justru di 10 hari terakhir tersebut adalah hari pamungkas sekaligus pembebasan dari api neraka setelah 10 hari sebelumnya turunnya rahmat dan mahgfirah. Belum lagi kalau mengingat malam Lailatul Qadr (malam diturunkannya Al-Qur’an) malam yang lebih baik dari 1000 bulan, Masya Allah betapa beruntungnya orang-orang yang mendapatkan malam tersebut. Sehingga yang haus akan pahala surga justru meningkatkan amalannya pada 10 malam terakhir tersebut termasuk melakukan itikaf dimasjid. Lah berhubung para wanitanya dirumah saja, mbok ya jangan mau kalah sama si Bapak. Caranya dengan tetap melakukan hal-hal baik nan positive, melakukan hal apapun (khususnya kerjaan rumah tangga) dengan penuh keihklasan karena hal tersebut juga merupakan ibadah loh. Yang terpenting hindari  ngumpul dengan tetangga (jika tanpa tujuan), khawatir ujung-ujung nya jadi gosip, fitnah atau sekedar ghibah (menggunjing).
Nah loh ko mall nya masih rame terus yaaaa,….ada banyak kemungkinan. Pertama mungkin memang ada yang beli bajunya nunggu lebaran alias setahun sekali. Kedua ada yang memang sengaja niatnya nyenengin keluarga besar jadi semua sodara sampai ponakan dibelikan sampai pusing milihnya. Ketiga bisa jadi ada yang tak cukup punya baju satu, belum lagi dari atas sampai bawah harus matching, howalaaah cuman gara-gara nyari sepatu yang pas sama baju sampai waktu sholatnya terlewatkan (jangan sampai hal ini terjadi yah). Kasian kalau seperti ini karena makna Ramadhan menjadi sia-sia, karena yang didapat hanya  lapar dan haus semata.
Andai bisa berlaku sebaliknya, lebaran tak perlu menggunakan baju baru dan biasakan anak-anakpun tak dipakaikan baju baru saat lebaran yang penting bersih. Beli sesuai kebutuhan saja, kalau memang ada rezeki dan  ada yang cocok ya beli saja tanpa harus menunggu lebaran bukan? sama halnya dengan persiapan bekal mudik dan pemberian untuk orang-orang terdekat, sebetulnya tak perlu menunggu lebaranuntuk berbagi. Pahala sebaiknya kita tabung tiap saat (terlebih banyak kesempatan) bukan hanya pada saat lebaran saja. Memang agak kesulitan jika sudah menjadi tradisi yang turun temurun, tapi ada baiknya kita ambil hikmahnya saja dan semoga hal-hal yang baiknya saja yang kita tiru bukan sebaliknya. Jangan sampai terjebak dengan hedonisme jelang lebaran yang mengkhawatirkan  kita  menjadi tak kembali suci sehingga syetan yang  katanya sedang dibelenggu malah tertawa terbahak-bahak menyaksikan jeratannya berhasil (terbelenggu saja bisa menjebak apalagi jk dilepas lagi)! Naudzubillahi Mindazlik.


Komentar dan Tanggapan: