Tips Menjaga Gizi Anak Saat Berpuasa

Tips dan trik menjaga gizi anak saat berpuasa sebetulnya yang utama adalah memahami karakter dan kesukaan masing-masing anak. Kebetulan Allah SWT memberikan saya anugerah 3 putri yang luar biasa. Pertama Alyssa (7,5 th) Alhamdulillah sudah ikutan puasa sampai Maghrib tiba. Sedangkan putri kedua Aqeela (5th) sudah belajar saur namun masih sampai adzan dzuhur lalu dilanjutkan kembali puasanya hingga Maghrib tiba. Sedangkan yang ketiga Aisha (2,5th) barus sekedar ikut-ikutan saja, sesekali ikutan sahur namun jam 7 sudah minta cemilan namun jika ditanya “Aisha Puasa?” dirinya mengangguk sambil tersenyum lebar (ternyata tidak jauh berbeda dengan pengalaman saya waktu kecil dulu).

Mengapa saya katakan tergantung karakter dan kesukaan si anak? karena masing-masing anak memiliki kecenderungan yang berbeda seperti si kaka yang kurang begitu menyukai kacang merah dan jajanan sebangsa ciki, sibungsu yang tak tertarik dengan makanan olahan seperti sarden dan kaka kedua yang suka makan satu-satu menu saja (jadi walaupun ada 3 menu dimeja, makannya bergiliran step by step). Sepanjang makanan yang tdk disukainya adalah makanan yang minim gizi, tentu saya bersyukur yang menjadi masalah ketika sianak tidak menyukai makanan padat gizi. Walaupun sejauh ini anak-anak memang lebih suka masakan hasil olahan Bundanya daripada jajanan (terutama masakan) dari warteg. 
Memang agak memakan banyak waktu untuk memasak jika memiliki selera yang berbeda, namun tak masalah bagi saya daripada sianak tak makan.Jangan pernah menyerah ibu, karena itu memang sudah resiko menjadi ibu (yang selalu ingin memberikan yang terbaik). Solusinya sesekali perkenalkan makanan yang tidak disukai tersebut dalam olahan berbeda, misalnya si kaka yang tak suka kacang merah siasati saja dengan membuat nugget campuran sikacang dengan ayam misalnya. Tanpa disadari ketika makan habis katakan saja bahwa itu ada sikacang merahnya dan ternyata enak bukan? sehat lagi! Insya Allah si anakpun akan menggut-manggut setuju. Jadi permasalahan bukan pada suka tidak suka akan tetapi bagaimana pintar-pintarnya si ibu untuk menyiasatinya. Termasuk jika si anak tak suka buah dan sayur, sebaiknya dibiasakan untuk makan buah bersama diluar waktu makan. Tunjukan bahwa orang tuapun lahap mengkonsumsinya, jadi jangan hanya menyuruh tanpa contoh. Jika tetap saja tak suka bisa disiasati dengan jus, diawali dengan buah yang paling disukainya. 

Selalu ada cara jika diniati dengan sungguh-sungguh. Termasuk dalam mengajarkan anak-anak berpuasa dan melakukan ibadah ritual lainnya harus dengan contoh yang real tak hanya retorika semata. Jangan pelit juga memberikan pujian jika anak melakukan hal baik/ terpuji dan jangan sungkan juga memberikan hukuman (yang mendidik) jika anak dirasa selalu melanggar. Hukuman diberikan dengan tujuan agar si anak jera dan tidak melakukan pelanggaran lagi. Alhamdulillah ketiga anak saya sejauh ini bisa diatur (sesekali saja melanggarnya) bisa jadi karena khawatir akan hukuman yang diberikan sehingga terlatih untuk disiplin dan terus melakukan kebaikan dengan begitu harapannya kelak agar menjadi pribadi-pribadi yang tahan banting, disiplin, sehat, cerdas dan menjadi anak-anak sholehah yang bisa dibanggakan. 


Komentar dan Tanggapan: